This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 04 Juli 2013

Jangan Benci Aku, Mama


Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.
Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.
Saat usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja.
Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun………. telah berlalu sejak kejadian itu.
Kini Aku telah menikah kembali dengan Beni, seorang pria dewasa yang mapan. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.
Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali sama Mama!”
Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,
“Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”
“Nama saya Elik, Tante.”
“Erik? Erik… Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?”
Aku langsung tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala. Baru sekarang akua menyadari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di pikiranku. Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik…sabar ya nak….”
Sore itu aku memarkir mobil biruku di samping sebuah gubuk, dan Beni suamiku dengan pandangan heran menatapku dari samping. “Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu.” tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.
Ternyata Tuhan sungguh baik kepadaku. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari mobil diikuti oleh suami dari belakang. Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter didepan. Aku mulai teringat betapa gubuk itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik….. Erik……
Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.
Namun aku tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Aku mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari…… Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, aku pun keluar dari ruangan itu… Air mataku mengalir dengan deras. Saat itu aku hanya diam saja. Sesaat kemudian aku dan suami mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba – tiba aku melihat seseorang di belakang mobil kami. Aku sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!”
Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?”
Tiba – tiba Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mamaaa…, Mamaaa!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan & mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…..”
Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi…? Mama benci ya sama Erik? Ma…., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji kalau Mama tidak akan benci lagi sama Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, ……”
Aku menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!” Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa Anda tidak terampuni!”
Aku kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

Kisah Jessica Dengan Bukunya

Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica, “Pa liat”! Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kacamatanya, kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi “Wah,. buku baru ya Jes?” “Ya papa” Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya. “Bacain Jessi dong Pa” pinta Jessica lembut “Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh” sanggah Budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius. Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu “pa, mama bilang papa mau baca untuk Jessi” Budi mulai agak kesal, “Jes papa sibuk, sekarang Jessi suruh mama baca ya” “Pa, mama cibuk terus, papa liat gambarnya lucu-lucu” “Lain kali Jessica, sana! papa lagi banyak kerjaan” Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi. “Pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka” “Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!” kata Budi membentaknya dengan keras. Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis , matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya “Iya pa,. lain kali ya pa?” Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah. “Pa kalau papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger”. Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, buku cerita Peri Imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya.

Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras “Buukk!!” beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terhentak beberapa meter, dalam keadaan yang begitu panik ambulance didatangkan secepatnya. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih “Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang papa mama” Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat. Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi, Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana.. pun tidak terpenuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali “,…papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa denger” kata-kata Jessi terngiang-ngiang kembali. Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi, Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil. Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan suara keras, tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras, Ia terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata. “Jessi dengar papa baca ya” selang beberapa kata,.. hatinya memohon lagi “Jessi, papa mohon ampun nak” “papa sayang Jessi!” Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu Budi bersujut dan menangis memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai.

Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan kita, Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita karena ia peduli kepada kita.

Rabu, 03 Juli 2013

DOAKU

Ya Tuhan. .
Aku tidak meminta untuk berjalan di jalan yang rata, ataupun menanggung beban yang ringan.
Aku berdoa memohon kekuatan dan keberanian untuk mendaki jalan yang penuh bebatuan
Beri aku keberanian sehingga aku dapat melalui puncak yang terberat seorang diri, dan mengubah setiap sandungan menjadi batu pijakan .

Minggu, 30 Juni 2013

ISTRI YANG PALING SEMPURNA


Aku tak mencintaimu seperti engkau adalah mawar, atau topas, atau panah anyelir yang membakar. Aku mencintaimu selayaknya beberapa hal terlarang dicintai, diam-diam di sela-sela bayangan dan sukma.*

Aku adalah suami yang lemah lembut dan sangat mencintai istriku. Dialah satu-satunya perempuan di dunia ini yang bertahta dalam hatiku. Aku tidak pernah sedikit pun memukulnya, apalagi mencaci maki. Aku tidak pemabuk, bukan penjudi, tidak pernah menyentuh narkoba, dan tak pernah terpikirntuk berselingkuh. Sempurna bukan? Aku ingat lagu When A Man Loves A Woman. Dengarkan, itu bukan lagu cengeng, ya.

Kami menikah pada musim yang kaya dengan matahari tropis dan angin lembut bertiup manja dari pori-pori awan. Hujan daun berjatuhan dari ranting ketika kami saling mengucapkan janji seia sekata, sehidup semati. Dalam untung dan malang. Dalam suka dan duka. Dalam sakit dan sehat. Sampai maut memisahkan. Kuucapkan sumpahku sepenuh hati. Niatku memang tulus dan suci. Hari itu aku diliputi udara kebahagiaan yang membuatku mabuk kepayang, bagai menenggak berpuluh-puluh sloki scotch. Belum pernah kulihat istriku tampak demikian cantik dan bercahaya. Benar, dia sungguh-sungguh bersinar, seakan dia menjelma menjadi peri kunang-kunang. Aku terharu, terapung-apung oleh ombak lembut di samudra cintaku kepadanya.

Jangan katakan aku adalah lelaki yang cengeng atau melankolis, yang mudah tersentuh oleh hal-hal seperti itu. Apa pun suasananya, aku akan selalu tersentuh jika melihat kehadiran istriku. Dia mampu mewarnai hidupku dan menciptakan pelangi setelah hujan turun. Dia adalah kumparan intan permata yang selalu kusemat dalam lorong jiwa tergelapku.

Malamnya, kami bercinta di atas ranjang hotel kami yang romantis bertabur puluhan kelopak mawar. Kucium belakang telinganya yang wanginya seharum rumpun cemara pada pagi hari. Kuusap bibirnya yang lembut dan kenyal bagai jeli manis berwarna merah delima. Kurasakan degup jantungnya yang stabil dan menenangkan pada tanganku. Cintaku meleleh, membungkusnya rapat-rapat, dari ujung rambut terjauhnya sampai telapak kaki mungilnya. Oh, dia begitu rapuh dan indah. Tak pernah aku merasakan kekuatan dalam tubuh ini yang ingin selalu melindunginya dari segala marabahaya. Aku menatap istriku tanpa henti, seakan waktu tak pernah berputar dan musim tak pernah mengudar. Aku mati-matian menahan diri agar tidak jatuh tertidur, agar detik itu mengkristal, menjadi keabadian, tapi toh mata memang dapat mengkhianati hati. Ketika aku menutup kelopak mataku, aku masih merasakan bayangnya yang hidup dan bergerak dalam mimpiku.  

Dua bulan kemudian, istriku menyampaikan berita paling manis yang pernah kucecap. Dia hamil. Aku akan menjadi ayah dan dia akan menjadi ibu. Bagai berjalan di atas tanah basah setelah hujan embun, aku merasakan hidupku sungguh lengkap. Kami berlayar di dunia yang penuh manis gulali. Tidak pernah aku ingin memutar perahu ini kembali pada dermaga yang dulu.

Ketika kandungannya berusia tiga bulan, istriku keguguran. Aku menolak mengatakan bahwa itu adalah peristiwa tersedih yang pernah kualami. Tidak, peristiwa itu membuat cintaku semakin dalam padanya. Ketika rahimnya dibersihkan, aku ngotot untuk mendampinginya, menggenggam jemarinya yang pucat. Dokter sibuk di ujung tungkai kakinya, menyedot sisa-sisa anak kami dengan alat medis yang tampak seperti vacuum cleaner bagiku. Istriku dibius tidur. Aku menatap matanya yang terkadang berkedut. Aku tenggelam dalam mimpinya, memagut tubuhnya rapat dalam pelukanku.

Enam bulan kemudian dia hamil lagi. Kebahagiaan kami mendapatkan bayi hanya seumur jagung. Dua bulan setelahnya, dia kembali keguguran. Kali ini tangisnya bagai kawah gunung berapi yang sedang menggelegak. Dia ingin mengecek kondisi medisnya. Istriku geram, istriku penasaran, istriku berkabung. Apa gerangan yang membuatnya selalu keguguran? Aku mendampingi dan mendukungnya dalam setiap keputusannya. Berbulan-bulan dia menjelajahi hutan medis. Tes darah. Tes kesehatan. Tes fisik. Tidak apa-apa, kata semua dokter. Keguguran adalah hal normal yang terjadi pada calon ibu. Aku menggenggam tangannya erat-erat ketika kepalanya jatuh tertunduk layu di ruang konsultasi dokter.

Setahun kemudian, dia hamil lagi. Kali ini dia bertekad untuk menjaga kandungannya. Istriku beristirahat total di rumah. Dia menyiapkan sarang kecil di kamar kami. Tiap hari kulihat dia bergelung di atas ranjang, tidak melakukan apa-apa, hanya berbaring dan bermeditasi. Tidakkah kamu bosan, tanyaku. Tidak, katanya. Ini semua kulakukan untuk anak kita tercinta, begitu jawabnya penuh kasih sayang. Kuperhatikan dirinya dalam gelegak diam yang penuh kebahagian ketika melihat perutnya semakin membuncit. Istriku terlihat semakin seksi, sensual, dan menggairahkan. Sembilan bulan melaju demikian cepat. Dia melindungi janinnya baik-baik. Aku berterimakasih kepadanya atas pengorbanannya yang begitu besar.

Pagi itu ketika embun pertama menetes, dia melahirkan bayi-bayi kami. Ya, bayi-bayi. Bukan hanya satu bayi. Kami mendapat anugrah dua kali lipat. Bayi kembar yang manis. Sepasang lelaki dan perempuan. Tak pernah kurasakan kebahagiaan ini; begitu agung, begitu mewah. Kami memberi nama mereka Sabiya yang berarti pagi hari dalam bahasa Arab serta Liko yang berarti dilindungi oleh Buddha dalam bahasa Cina. Dua nama yang benar-benar berbeda; berasal dari dua kebudayaan, dua bahasa, dan dua agama besar. Aku mencium dua permata kami sebelum kembali ke ruang perawatan ibu, mengunjungi kekasih hatiku. 

Aku mencintaimu seperti tumbuhan yang urung mekar, dan membawa jiwa bunga-bunga itu di dalam dirinya, dan karena cintamu, aroma bumi yang pekat tumbuh diam-diam di dalam tubuhku.*

&    &    &

Aku tidak pernah berhenti mencintainya. Hanya istriku yang menjadi tiang utama perhatianku dalam hidup. Hanya dia seorang, tak ada lagi. Setelah melahirkan, dia berubah. Perhatiannya yang dulu bertubi-tubi untukku menjadi berkurang. Sering kali aku diabaikan. Sering kali aku didiamkan. Aku selalu bersabar menghadapinya. Kata orang, demikianlah perempuan yang baru melahirkan. Hormonnya berganti-ganti.

Dia senang mendekam dalam rumah sekarang. Jarang ingin keluar jika kuajak berjalan-jalan. Mengenakan daster setiap hari, tak pernah berdandan lagi. Tubuhnya bau susu. Aku heran, mengapa dia perlu membuat susu sebanyak itu. Katanya anak-anak kami menyusu dengan rakus. ASI-nya tidak mencukupi. Aku terdiam mendengar penuturannya.

Pada hari anniversary kami yang kelima, kuajak dia pergi mengunjungi negeri paling romantis yang pernah ada di dunia. Aku telah memesan perjalanan first class, hotel five stars, dan restoran mewah yang akan memanjakan kami berdua. Selama sepuluh hari itu aku ingin memusatkan perhatian hanya untuk dirinya saja. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku malas pergi, katanya. Kasihan bayi-bayi kami tak diajak serta. Aku gigih memaksanya, sampai akhirnya dia bersedia mengepak koper-koper kami dan menghabiskan sepuluh hari selanjutnya bersamaku saja.

Aku bahagia, melihat dia kembali menjadi istriku yang dulu. Dia tampak bergairah. Cintanya membara untukku. Kami bercinta setiap hari selama sepuluh hari. Kuisap buliran madu yang menetes turun dari rambut hitamnya. Kuhirup lelehan karamel yang mengilapkan tubuhnya. Aku mencintainya sepenuh hati, demi Tuhan. Kami adalah pasangan abadi yang dirancang oleh surga.

Ketika pulang, baru mencapai pegangan pintu, istriku kembali berubah lagi. Kurasakan cintanya padaku segera menyusut. Perhatiannya langsung terampas oleh hal-hal lain. Bayi-bayi kita rindu, demikian penjelasannya. Aku tidak percaya bayi-bayi dapat merindu. Kudiamkan dirinya selama berjam-jam sampai malam menjemput. Istriku tak menyadari kesedihanku. Dia sibuk di kamar, bersama bayi-bayi. Kudengar pekikan riangnya dari kamar kami yang kini semakin sepi. Istriku memutuskan tidur di kamar anak-anak agar selalu dekat dengan mereka.

Tahun-tahun pun terpeleset, meluncur cepat bagai kereta jet costar di taman bermain. Kata istriku, si kembar kini telah berusia lima tahun. Dia hendak mengadakan pesta besar-besaran. Untuk pertama kalinya, aku tidak setuju dengan pendapat istriku. Untuk apa pesta, kataku menjelaskan lemah lembut. Tapi dia ngotot, sehingga kami pun bertengkar hebat. Kukatakan padanya untuk segera melupakan ide itu. Dia tersinggung. Katanya aku lelaki egois yang mementingkan diri sendiri. Pedih hatiku mendengarnya. Tidak pernah secuil pun aku memikirkan diri sendiri di atas kepentingannya. Pesta terlupakan tapi perkelahian kami bagai bibit yang siap pecah untuk menumbuhkan tunasnya.

Aku lelah dengan rengekannya tentang kenakalan anak-anak. Aku tidak ingin mengomentari tentang kesukaannya mendadani Sabiya dan kebanggaannya terhadap ketampanan Liko. Aku capek dengan ceritanya tentang kemajuan anak-anak di sekolah. Aku tidak ingin sibuk mencari segala hal yang terbaik buat anak-anak.

Jangan salah. Aku bukannya tidak ingin membantu kerepotannya dalam rumah tangga, aku hanya lelah. Aku tidak ingin melakukan apa-apa lagi. Aku hanya menginginkan cintanya yang dulu begitu meledak-ledak padaku. Padahal cintaku padanya masih dahsyat. Masih legit. Sering kali aku melamun memerhatikan dirinya di meja makan. Baru saat mulutku hendak bercerita tentang segala hal yang ingin kuceritakan padanya—kegiatan yang dulu sering kami lakukan, dia mendadak harus mengomeli anak-anak. Katanya anak-anak tidak menghabiskan sop mereka. Terpaksa aku diam lagi. Dengan layu dan sedih kuperhatikan wajahnya yang menua, tampak garis-garis kerutan di sana sini. Aneh. Bukannya dia bertambah buruk di mataku, istriku semakin cantik jelita.

 Aku mencintaimu tanpa mengerti bagaimana, sejak kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintai seperti ini, karena tak ada cara lain untuk mencintai.*

&    &   &

Dua puluh tiga tahun telah berlalu. Dua puluh tiga tahun aku telah menikah dengannya. Dua puluh tiga tahun aku tak pernah surut mencintai istriku. Dia pilar hidupku. Dia cahaya mercusuarku. Dia bertahta di jiwaku selamanya.

Tapi kali ini terlalu kelewatan. Istriku semakin menuntut macam-macam dariku. Si kembar akan berusia tujuh belas tahun, katanya. Mereka pengin pesta sweet seventeen di hotel termewah di kota ini. Acaranya harus sempurna. Dia tidak peduli dengan harga katering atau even organizer yang akan disewa olehnya. Sebenarnya aku peduli, tapi aku diam. Karena aku mencintainya, kubiarkan dia melakukan hal-hal yang disukainya. Demi anak-anak, katanya memohon. Sekali dalam hidup kita, biarlah kita menyenangkan anak-anak.

Pesta itu sangat mewah. Ballroom terbesar disewa olehnya. Makanan berlimpah untuk ratusan tamu. Ruangan itu dihias, didekor dengan sempurna. Aku tidak ingin datang ke pesta. Aku sengaja berlambat-lambat di kantor, menyibukkan diri dengan meeting. Sebenarnya aku ingin ke luar kota saja, mengadakan perjalanan bisnis, biar tidak usah menghadiri pesta yang menurutku bodoh itu. Tapi istriku memohon agar aku tidak pergi ke luar kota. Entah untuk keberapa ratus kalinya, kukabulkan permohonannya. Gara-gara itu, dia menerorku dengan telepon sepanjang hari, mengingatkanku agar pulang cepat dan pergi ke pesta dengannya.

Akhirnya setelah berhasil mengulur waktu selama dua jam lebih, aku pulang juga. Di rumah, mata istriku tampak sembap karena terlalu lelah menungguku. Baiklah, aku menyerah. Aku sungguh mencintainya karena itu kupaksakan diriku mengenakan jas hitam yang telah disiapkan olehnya. Istriku tampak berseri-seri dalam balutan gaun pestanya. Aku jadi ingat malam pernikahan kami. Betapa cantiknya dia. Betapa bersinar-sinarnya dia. Jika harus kulakukan hal ini untuk membahagiakannya, aku tak perlu berpikir dua kali.

Di ballroom, pesta nyaris mulai. Kugandeng tangan istriku yang terasa dingin dan pucat. Para pelayan hotel berdiri di setiap ujung, mengamati gerak-gerik kami. Aku tersenyum, mengangguk kepada mereka. Istriku berjalan ke tengah ruangan. Aku berdiri di sana bersamanya. Aku ingat lagi ketika kami menikah, berjalan berdua, setengah mati berbahagia. Jika hidupku ditakdirkan untuk mencintainya, biarlah kuarungi jalan ini.

Di tengah ruangan, kami berdiri berdua. Hanya berdua. Sepasang kakek-nenek bergandengan penuh cinta. Tak ada siapa-siapa di ballroom.Kutatap matanya yang mulai merabun. Dia berbisik lirih agar aku memaafkan dirinya yang bodoh. Aku menatapnya masih dengan penuh cinta dan haru. Aku tidak pernah punya simpanan maaf untuknya, karena di mataku dia tak pernah salah.

Anak kami, Sabiya dan Liko, hari ini memang berusia tujuh belas tahun.Tujuh belas tahun yang lalu, mereka meninggal setelah dilahirkan istriku. Sepasang bayi kembar siam dempet di kepala itu hanya bertahan empat jam di pelukan lembut istriku. Kami menguburkan mereka. Ini tidak benar. Orangtua tidak seharusnya menguburkan anak, melainkan kebalikannya. Istriku tidak hanya menguburkan anak-anak kami, dia juga harus rela menguburkan mimpinya memiliki anak kandung. Rahimnya mati bersama bayi-bayi tercinta kami. Terus terang, aku tidak pernah peduli dengan kenyataan itu. Bagiku, dia tetaplah istriku yang paling sempurna.

Kugandeng kekasihku dan kuberikan sinyal kepada para pelayan agar segera memulai pesta. Musik pun mengalun dari orchestra yang disewa khusus olehnya. Makanan disajikan. Aku memeluk istriku di tengah-tengah ruangan. Perlahan-lahan, lampu kristal meremang dan hujan kelopak mawar berjatuhan dari atas. Kuayun langkahnya, kudekap tubuh hangatnya, dan kucium pipinya. Kami berdansa sampai malam menggigit bulan. Hanya kami berdua, saling menyentuh penuh kasih sayang. Hanya kami berdua, karena aku sangat mencintainya. Sesederhana itu. Sungguh.

Di sini, di mana "aku" dan "kau" tiada, begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu erat, hingga ketika kau tertidur, kelopak matakulah yang tertutup.*